Latar Belakang

Berdasarkan data dari Menristek Dikti tahun 2019, terdapat 7,5 juta Mahasiswa yang berada di Indonesia. Usia Mahasiswa s1 bekisar antara 19-23 tahun, sedangkan penduduk Indonesia dengan umur 19-23 tahun berada pada tingkat populasi 80 hingga 107 juta. Pendidikan tinggi saat ini masih mencapai angka 7,5 juta, yang artinya saat ini baru 32,9 persen yang mampu mengenyam pendidikan tinggi di Indonesia.

Kota Bandung seperti yang kita ketahui adalah kota dengan jumlah perguruan tinggi yang banyak dan beragam. Hal ini salah satunya yang menempatkan Kota Bandung sebagai daerah dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi nomor 1 (satu) di Jawa Barat dan nomor 4 (empat) se-Indonesia dengan jumlah penduduk 2.490.622 jiwa.

Hal tersebut jelas mengandung keuntungan dan keburukan tersendiri. Keuntungan yang bisa didapat dengan populasi yang sebagian besar generasi muda tersebut adalah bonus demografinya. Jika penduduk dengan usia produktif tersebut dapat diarahkan untuk kepentingan pembangunan dan kemajuan umat tentunya akan sangat memberikan dampak yang signifikan. Mengingat bahwa mereka inilah calon populasi penghuni masa depan bangsa ini.

Namun kerugian yang akan didapat jika para generasi muda ini tidak dapat dikendalikan dan diarahkan kepada sesuatu hal positif maka kegelapan bangsa ini di masa depan sudah jelas terlihat.

Disamping  itu  pula  peringkat  kepadatan  penduduk  tersebut  masih  menyisakan masalah bagi Pemerintah Kota Bandung, diantaranya adalah tingkat penyebaran penduduk yang juga tidak merata dan hanya terpusat dibeberapa wilayah tertentu saja. Seperti yang dapat dicontohkan adalah daerah Kel. Gegerkalong Kec.Sukasari. Di daerah tersebut terdapat beberapa universitas dan perguruan tinggi negeri dan swasta. Kita ambil contoh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Radius 0 – 2 kilometer dari daerah kampus dapat terlihat terjadi kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Sementara radius ±3 kilometer dari kampus UPI terdapat daerah dengan tingkat kepadatan yang sangat jarang yakni perumahan Pondok Hijau dan  Sertiabudhi  Regency,  hal  ini  bisa  terlihat  dari  rumah  –  rumah  besar  yang  tidak berpenghuni dan tidak termanfaatkan.

Kota Bandung merupakan salah satu wilayah potensial yang dapat di kembangkan menjadi salah satu kota percontohan untuk menjadi Islamic City di Indonesia dengan potensi banyaknya lembaga-lembaga pendidikan islam yang ada dan pemuda-pemuda yang kreatif serta Pemerintah Kota yang pro aktif mendukung kemajuan dakwah islam di Kota Bandung. Saat ini hampir setiap aspek kehidupan Kota Bandung sudah berbasis teknologi informasi yang terintegrasi, dari mulai sistem informasi keamanan, kesehatan, pendidikan, administrasi, dan pariwisata yang dapat diakses melalui aplikasi berbasis teknologi informasi. Namun demikian masih banyak masalah-masalah yang belum optimal diatasi oleh Pemerintah Kota, seperti masalah pergaulan bebas, kenakalan remaja, free sex, dan masalah sosial lainnya yang berhubungan dengan generasi muda khususnya mahasiswa. Maka perlu ada solusi serius yang dibangun secara sistematis, kreatif, dan komprehensif dalam upaya menyelamatkan generasi dari arus globalisasi telah menyeret generasi muda pada nilai-nilai kebebasan yang membawa akibat serius pada kualitas mereka untuk masa depan.

Kitab Ta’lim al Muta’allim menyatakan bahwa ilmu yang wajib dikuasai oleh setiap manusia adalah ilmu al haal. Ilmu al haal terdiri dari ilmu tentang ibadah (terutama adalah ilmu aqidah), ilmu syariah tentang jual beli [al buyuu’] atau muamalah, dan ilmu tentang dinamika hati [ahwaal al qalb] yang mencakup akhlak. Secara sistematis dan komprehensif, ilmu- ilmu tersebut sejak dini diajarkan di madrasah diniyyah dan/atau di pondok pesantren. Sedangkan pengembangan dalam ibadah dan muamalah modern [kontemporer], ilmu tersebut dilengkapi oleh keberadaan lembaga pendidikan   formal.   Jadi,   keberadaan   lembaga   pendidikan   formal   dan informal merupakan suatu kelaziman dan sangat berperan penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Rumah Binaan Generasi Emas Negeri (Rubin GEN) memiliki fasilitas yang akan menunjang hal tersebut. Program pembinaan generasi berbasis Rubin adalah sebuah program pembinaan keIslaman dan skill berbasis  teknologi informasi  yang terintegrasi.  Rubin GEN melakukan pembinaan keIslaman dan Skill secara mukim dan intensif dengan jenjang waktu 2 tahun. Output dari peserta Rubin GEN adalah lahirnya mahasiswa-mahasiswa yang cerdas, terampil, ber-syakhsiyyah Islam. Disisi lain kami menggunakan aplikasi startup yang akan mempertemukan antara pemuda yang ingin dibina dengan Rubin GEN serta pemilik rumah yang yang ingin rumahnya dimanfaatkan menjadi lebih berkah.

 

Apa Itu Rubin ?

Rumah Binaan (Rubin) awalnya sebuah nama yang diberikan oleh mahasiswa lembaga dakwah kampus untuk tempat kontrakan atau rumah tempat tinggal mereka. Namun di dalamnya bukan hanya digunakan sebagai tempat istirahat melainkan juga diisi oleh pembinaan keislaman agar menumbuhkan jiwa-jiwa yang terjaga dalam kondisi lingkungan keimanan.

Seiring perkembangan waktu rubin mulai banyak diminati di berbagai kampus di Kota Bandung untuk para aktivis dakwah kampus sebagai sarana mereka bersama baik di luar kampus maupun di dalam kampus. Rubin juga menghasilkan kader kader yang mumpuni dalam bidang keagamaan meskipun di dalam kampus jurusan mereka bukan dalam bidang agama.

 

Visi & Misi

Visi

Pioneer Pembinaan Mahasiswa Muslim berbasis Aplikasi

Misi

  1. Mengembangkan Aplikasi sebagai sarana kontrol pembinaan.

  2. Melahirkan mahasiswa muslim yang memiliki keimanan yang kokoh.

  3. Membentuk mahasiswa muslim berkepribadian Islam.

  4. Mencetak mahasiswa muslim yang cerdas, terampil, dan siap menghadapi tantangan zaman.

  5. Membentuk mahasiswa muslim mandiri dan peduli terhadap masyarakat.